PUNGGAWALIFE, MAKASSAR – Minat masyarakat terhadap gaya hidup sehat terus mengalami peningkatan signifikan belakangan ini. Salah satu fenomena yang turut mewarnai tren tersebut adalah semakin banyaknya orang yang mulai membuat roti sourdough secara mandiri di rumah. Selain proses pembuatannya yang dianggap menyenangkan, roti fermentasi ini juga dikenal luas memiliki keunggulan nilai gizi dibandingkan roti konvensional pada umumnya.

Meski begitu, penting untuk dipahami bahwa sourdough tetap mengandung karbohidrat dalam jumlah yang cukup tinggi dan tidak selalu berbahan dasar gandum utuh. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh apabila roti ini dikonsumsi setiap hari?

Kandungan Gizi yang Beragam

Nilai nutrisi dalam roti sourdough tidak bisa dipukul rata, sebab setiap produsen maupun pembuatnya menggunakan bahan dan metode yang berbeda-beda. Secara umum, sourdough yang terbuat dari tepung gandum mengandung karbohidrat sebagai sumber energi utama, sejumlah vitamin B seperti folat, riboflavin, dan tiamin, serta berbagai mineral penting termasuk selenium, mangan, zinc, dan zat besi. Kandungan tersebut memainkan peran krusial dalam metabolisme energi, ketahanan imun, serta kesehatan tulang.

Apabila sourdough dibuat dari gandum utuh, manfaatnya akan semakin berlipat karena kandungan protein, lemak sehat, dan serat yang jauh lebih tinggi. Kombinasi nutrisi ini berkontribusi pada kesehatan sistem pencernaan, jantung, dan otak, sekaligus membantu menstabilkan kadar gula darah. Nilai gizinya pun dapat meningkat lebih jauh apabila ditambahkan bahan-bahan pelengkap seperti kacang-kacangan, biji-bijian, atau rempah.

Manfaat yang Bisa Dirasakan

Bagi mereka yang beralih dari roti biasa ke sourdough, sejumlah manfaat positif berpotensi dirasakan, antara lain membaiknya fungsi pencernaan, meningkatnya penyerapan nutrisi, rasa kenyang yang lebih tahan lama, hingga energi yang lebih stabil sepanjang hari. Selama dikonsumsi dalam porsi yang wajar, sourdough dapat mendukung pemenuhan kebutuhan energi dan gizi harian, sekaligus menjaga kestabilan gula darah, terutama bila dipadukan dengan sumber protein dan lemak sehat.

Risiko Konsumsi Berlebihan

Di sisi lain, konsumsi sourdough secara berlebihan tetap menyimpan sejumlah risiko yang tidak boleh diabaikan. Salah satunya adalah potensi kenaikan berat badan, khususnya penumpukan lemak visceral atau lemak di area perut. Konsumsi yang terlalu banyak juga berisiko mengurangi asupan makanan berserat tinggi lainnya yang dibutuhkan tubuh.

Selain itu, bagi individu yang memiliki sensitivitas terhadap gluten atau jenis karbohidrat tertentu, konsumsi sourdough setiap hari dapat memicu keluhan seperti perut kembung, produksi gas berlebih, hingga rasa tidak nyaman di saluran pencernaan. Adapun bagi penderita penyakit celiac atau mereka yang memiliki alergi terhadap gandum, sourdough tetap harus dihindari sepenuhnya tanpa pengecualian.

Kesimpulannya, sourdough memang menawarkan nilai gizi yang lebih baik dibandingkan roti biasa dan dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Namun, seperti halnya makanan lain, kuncinya tetap terletak pada keseimbangan dan moderasi dalam mengonsumsinya.