PUNGGAWALIFE – Menjelang waktu berbuka puasa, banyak orang sudah membayangkan berbagai hidangan lezat yang akan disantap. Namun, kebiasaan langsung mengonsumsi makanan berat seperti nasi atau lauk pauk dalam porsi besar ternyata dapat menimbulkan masalah kesehatan pada lambung.
Prof. Dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD, pakar penyakit dalam sekaligus konsultan gastroenterologi, menjelaskan bahwa lambung memerlukan penyesuaian bertahap setelah kosong selama 13-14 jam. “Ketika berbuka, kita harus mengonsumsi makanan dan minuman secara bertahap, tidak boleh langsung dengan makanan berat,” ujarnya dalam program kesehatan di salah satu stasiun televisi nasional.
Kondisi Lambung Selama Berpuasa
Menurut Prof. Ari, setelah sahur pada pukul 03.30 dini hari, lambung akan benar-benar kosong dalam rentang waktu 6-7 jam kemudian. Kondisi ini dapat menyebabkan produksi gas berlebih dan rasa tidak nyaman, terutama pada minggu pertama puasa. “Biasanya setelah minggu kedua, lambung akan menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut dan keluhan berkurang,” jelasnya.
Meski demikian, guru besar Ilmu Penyakit Dalam ini menekankan bahwa puasa Ramadan justru memberikan dampak positif bagi kesehatan lambung. Pola makan yang teratur saat sahur dan berbuka, ditambah dengan pengurangan konsumsi makanan tidak sehat seperti gorengan serta pengendalian diri yang lebih baik, dapat membuat lambung menjadi lebih sehat.
Risiko Makan Berat Langsung Saat Berbuka
Prof. Ari mengingatkan bahwa kebiasaan langsung menyantap makanan berat saat berbuka dapat memberikan beban berlebih pada lambung yang baru saja bekerja kembali setelah istirahat panjang. “Ini akan menimbulkan rasa kembung, begah, dan akhirnya seseorang mungkin tidak mau makan lagi,” ungkapnya.
Khususnya jika makanan yang dikonsumsi terlalu berlemak, proses pengosongan lambung akan melambat dan menimbulkan rasa mual. Jika kebiasaan ini terus dilakukan, keesokan harinya perut akan terasa tidak nyaman dan bahkan dapat mengganggu kelancaran ibadah puasa.
“Ada pasien yang datang dengan keluhan diare pada minggu kedua puasa karena tidak bisa mengatur pola makan dengan baik,” tambah Prof. Ari.
Tata Cara Berbuka yang Dianjurkan
Sesuai tuntunan agama yang juga sejalan dengan prinsip kesehatan, Prof. Ari merekomendasikan tahapan berbuka puasa sebagai berikut:
Pertama, konsumsi tiga butir kurma yang mengandung karbohidrat kompleks untuk segera mengembalikan energi tubuh, termasuk aman bagi penderita diabetes. Kedua, minum air putih atau teh manis dalam jumlah cukup. Ketiga, bisa dilanjutkan dengan kudapan ringan atau kue kecil. Keempat, disarankan menunaikan salat Maghrib terlebih dahulu sebelum menyantap makanan berat.
“Dengan cara bertahap seperti ini, lambung mendapatkan waktu untuk menyesuaikan diri setelah berpuasa 13-14 jam,” paparnya.
Tips Menjaga Kesehatan Lambung Selama Ramadan
Untuk menjaga kesehatan pencernaan selama bulan puasa, Prof. Ari memberikan beberapa rekomendasi penting:
Saat Sahur:
- Tetap melaksanakan sahur meskipun sudah makan setelah tarawih
- Pilih makanan yang mudah dicerna, seperti makanan rebus
- Hindari makanan berlemak berlebihan
- Batasi konsumsi kopi karena dapat merangsang buang air kecil
Saat Berbuka:
- Hindari makanan yang terlalu asam, pedas, atau merangsang
- Kurangi konsumsi cokelat, keju, dan makanan tinggi lemak yang memperlambat pengosongan lambung
- Atur porsi dengan bijak mengingat waktu makan yang terbatas
“Pada minggu kedua, saya sering menemukan pasien yang mengalami diare karena tidak bisa mengatur pola makan dengan baik. Oleh karena itu, dengan menjaga asupan makanan dan minuman, kita dapat menjaga kesehatan lambung dan menyelesaikan ibadah puasa dengan optimal,” pungkas Prof. Ari.
Pakar kesehatan ini menekankan bahwa puasa bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki pola hidup menjadi lebih sehat dan teratur. Dengan mengikuti panduan yang tepat, umat Islam dapat meraih berkah puasa sekaligus manfaat kesehatan yang optimal.

Tinggalkan Balasan