JAKARTA, PUNGGAWALIFE – Bukan perjalanan biasa. Arezo Eskandari, seorang psikolog sekaligus pesepeda asal Iran, tiba di Jakarta setelah mengayuh sepeda sejauh lebih dari 8.000 kilometer melintasi benua Asia โ€” sendirian, tanpa sponsor, dengan beban bawaan sekitar 60 kilogram.

Kedatangannya di ibu kota Indonesia menjadi penanda tujuh bulan perjalanan panjang yang dimulai dari China, kemudian berlanjut ke Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, hingga akhirnya menyentuh tanah Indonesia. Bukan kecepatan yang ia kejar, melainkan makna di setiap kayuhan.

Arezo membawa satu kampanye sederhana namun dalam: Slow Life. Sebuah ajakan untuk berhenti sejenak dari kebisingan dunia modern, tidak terlalu larut dalam masa lalu, dan tidak terlalu cemas menatap masa depan. Cukup hidup di saat ini.

Sebagai psikolog, Arezo meyakini bahwa perjalanan dengan sepeda adalah cara terbaik untuk benar-benar mengenal suatu tempat. Bukan dari jendela bus wisata, bukan dari layar hotel berbintang. Ia menyapa warga di pinggir jalan, singgah di rumah penduduk yang bersedia menerimanya, dan memasak sendiri untuk menghemat biaya.

Filosofi slow travel yang ia jalani bukan sekadar gaya hidup. Bagi Arezo, perjalanan lambat membuka ruang untuk memahami budaya, menyelami kehidupan lokal, dan membangun koneksi manusiawi yang mustahil tercipta ketika seseorang bergerak terlalu cepat.

Selama tujuh bulan di jalan, ia tidak menginap di hotel mewah. Tenda menjadi rumahnya di banyak malam. Sesekali, kebaikan warga yang ditemui di perjalanan menawarkan tempat berlindung โ€” sebuah pengalaman yang justru memperkaya perjalanannya melebihi itinerary mana pun.

Membawa muatan 60 kilogram di atas sepeda bukan hal yang mudah. Setiap tanjakan terasa berlipat ganda beratnya, setiap cuaca buruk menjadi ujian tersendiri. Di Asia Tenggara, tantangan terbesar yang dihadapi Arezo adalah terik matahari dan kelembapan udara yang menguras tenaga lebih cepat dari yang bisa dibayangkan.

Keamanan juga menjadi perhatian serius. Bersepeda seorang diri sebagai perempuan melintasi berbagai negara dengan karakter jalan dan budaya yang berbeda-beda menuntut kewaspadaan tinggi. Namun Arezo tak pernah menyebut itu sebagai alasan untuk berhenti.

Di Jakarta, ia sempat berinteraksi dengan warga dan membagikan materi kampanye Slow Life-nya. Kehadirannya mengundang perhatian โ€” seorang perempuan Iran dengan sepeda penuh muatan, tersenyum di tengah keramaian ibu kota Indonesia.

Perjalanannya di Indonesia belum berakhir di Jakarta. Dari ibu kota, Arezo berencana mengayuh sepedanya menuju Denpasar, Bali. Pulau Dewata menjadi perhentian berikutnya sebelum ia meneruskan petualangan lintas benua menuju India.

Di balik setiap kilometer yang ditempuh, ada pesan lain yang ingin Arezo sampaikan kepada dunia: bahwa Iran bukan sekadar nama negara di peta. Ia ingin memperkenalkan kehangatan budaya dan keramahan masyarakat Iran yang kerap tersembunyi di balik pemberitaan geopolitik.

Perjalanan Arezo Eskandari adalah bukti bahwa sepeda bisa menjadi kendaraan paling bermakna di dunia โ€” bukan karena kecepatannya, tetapi justru karena kelambatannya. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak selalu perlu dikejar, cukup dinikmati satu kayuhan demi satu kayuhan.


FAQ

Siapa Arezo Eskandari dan apa tujuan perjalanannya?
Arezo Eskandari adalah psikolog asal Iran yang melakukan perjalanan bersepeda sejauh lebih dari 8.000 km melintasi Asia untuk mengkampanyekan gaya hidup Slow Life, yakni ajakan untuk lebih hadir di masa kini dan tidak terbebani oleh masa lalu maupun masa depan.

Negara mana saja yang dilintasi Arezo dalam perjalanannya?
Arezo memulai perjalanan dari China, lalu meneruskan ke Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Setelah Jakarta dan Bali, ia berencana melanjutkan perjalanan ke India.

Bagaimana cara Arezo membiayai perjalanan panjang ini?
Arezo melakukan perjalanan tanpa dukungan sponsor. Ia menekan pengeluaran dengan memasak sendiri dan menginap di tenda atau di rumah warga yang bersedia menerima tamu selama perjalanan.



Follow Widget