Di bidang perawatan kulit, penelitian tahun 2014 menemukan bahwa paparan minyak nilam pada tikus yang terpapar radiasi ultraviolet menghasilkan lebih sedikit kerutan sekaligus meningkatkan kadar kolagen. Temuan ini menarik perhatian industri kosmetik, meski replikasinya pada manusia belum terbukti.

Satu klaim yang kerap beredar di masyarakat—bahwa minyak nilam efektif menurunkan berat badan—justru tidak mendapat dukungan dari data ilmiah. Studi kecil pada 2006 tidak menemukan perbedaan signifikan antara tikus yang menghirup minyak nilam dan yang tidak, baik dari sisi bobot tubuh maupun pola konsumsi makanan.

Sementara itu, sifat antibakteri minyak nilam mendapat catatan lebih menjanjikan. Pengujian pada 2017 memperlihatkan kemampuannya menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya seperti Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus pneumoniae—dengan efektivitas yang disejajarkan dengan sabun cair antiseptik. Bahkan, dalam melawan dua dari tiga bakteri tersebut, minyak nilam tampil lebih unggul ketimbang campuran minyak esensial lainnya.

Aktivitas antijamur juga tercatat dalam penelitian tahun 2018 yang menguji 60 jenis minyak esensial. Minyak nilam menunjukkan efektivitas signifikan dalam melawan Cryptococcus neoformans, jamur yang diketahui dapat memicu infeksi serius pada manusia.



Follow Widget