PUNGGAWALIFE – Memasuki Hari Raya Idul Fitri, kekhawatiran soal konsumsi daging dan makanan bersantan kerap menghantui masyarakat. Namun, seorang dokter spesialis gizi klinik membantah anggapan umum bahwa santan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh.

Dr. Dian, Sp.GK, dalam sebuah acara kesehatan di televisi nasional, menegaskan bahwa santan justru tidak terbukti meningkatkan kolesterol. “Penelitian terkini menunjukkan bahwa meskipun santan mengandung lemak jenuh, sifatnya lebih stabil dan penyimpanan lemaknya di tubuh lebih sedikit dibandingkan jenis lemak jenuh lainnya,” jelasnya.

Meski demikian, dokter yang berpraktik sebagai ahli gizi klinik ini mengingatkan agar konsumsi santan tetap dalam batas wajar. Pasalnya, riset juga membuktikan bahwa mengonsumsi santan lebih dari tiga kali dapat meningkatkan risiko penyakit pembuluh darah, termasuk jantung dan stroke.

Daging Rendang Aman untuk Penderita Kolesterol

Terkait konsumsi daging saat lebaran, Dr. Dian menepis mitos bahwa penderita kolesterol tinggi akan mengalami hipertensi bila mengonsumsi hidangan seperti rendang atau opor. “Yang memicu hipertensi bukan dagingnya, melainkan cara pengolahannya,” imbuhnya.

Menurutnya, daging olahan seperti sosis dan salami yang mengandung bahan pengawet justru lebih berpotensi memicu tekanan darah tinggi. Sebaliknya, daging yang diolah sendiri di rumah relatif aman asalkan memilih bagian yang rendah lemak.

“Pilih daging bagian lean atau tanpa lemak, seperti tenderloin atau bagian round pada sapi. Bagian ini kaya protein, asam amino esensial, zat besi, dan vitamin B12 yang dibutuhkan tubuh,” paparnya.

Cara Pengolahan Menentukan Kualitas Gizi

Dr. Dian menekankan pentingnya metode memasak yang tepat. Memasak dengan suhu terlalu tinggi, seperti memanggang atau menggoreng, dapat menghasilkan zat heterosiklik amin yang bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.

“Cara terbaik adalah merebus, mengukus, atau memasak dengan tekanan (presto). Metode ini lebih aman dan menjaga kandungan nutrisi,” ujarnya.

Khusus untuk masakan khas Indonesia yang kaya rempah seperti gulai atau rendang, ahli gizi ini justru memberikan apresiasi. “Bumbu rempah-rempah Indonesia mengandung antioksidan tinggi yang baik untuk kesehatan. Jadi makanan Padang dengan bumbu lengkap sebenarnya menyehatkan, asalkan tidak berlebihan,” tegasnya.

Porsi Ideal Konsumsi Daging

Dalam panduan gizi seimbang, Dr. Dian merekomendasikan konsumsi daging sebanyak satu potong atau sekitar 50 gram per waktu makan. “Dalam sehari bisa tiga kali makan, jadi ambil sedikit-sedikit saja. Jangan langsung banyak dalam satu waktu,” sarannya.

Untuk komposisi piring saat makan, separuh piring harus diisi sayuran, seperempat untuk karbohidrat (nasi, lontong, atau ketupat), dan seperempat lagi untuk lauk hewani seperti rendang atau opor ayam.

Mengonsumsi daging dua kali seminggu dinilai ideal, meskipun konsumsi setiap hari juga tidak masalah asalkan memilih potongan rendah lemak dan porsi terkontrol.

Cek Visual Sebelum Membeli

Saat berbelanja daging di pasar swalayan, Dr. Dian menyarankan konsumen untuk memperhatikan corak pada permukaan daging. “Jika ada corak putih-putih di dalam daging merah, itu tandanya lemak. Semakin banyak corak putih, semakin tinggi kadar lemaknya. Pilih yang corak putihnya paling sedikit,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya tetap mengonsumsi gizi seimbang meski sedang merayakan lebaran. “Jangan lupa perbanyak sayur dan buah yang kaya serat untuk menyeimbangkan asupan daging. Dan yang tak kalah penting, tetap rutin berolahraga,” pungkasnya.

Dengan panduan yang tepat, masyarakat tetap bisa menikmati hidangan lebaran tanpa khawatir akan dampak kesehatan. Kuncinya adalah porsi terkontrol, pemilihan bahan yang tepat, dan metode pengolahan yang sehat.

RADIO SUARA BERSATU FM