PUNGGAWALIFE – Selama bulan Ramadan, tradisi berbuka puasa dengan minuman dingin seperti es buah, es cendol, atau sirup dingin telah menjadi kebiasaan turun-temurun masyarakat Indonesia. Sensasi segar dan nikmat saat meneguk minuman dingin setelah seharian menahan dahaga memang terasa sangat memuaskan. Namun, apakah kebiasaan ini benar-benar menyehatkan?
Dr. Feni Nugraha, MGC, Spesialis Gizi Klinik, memberikan penjelasan yang mungkin mengubah kebiasaan berbuka puasa Anda. “Memang benar air dingin lebih cepat menghilangkan dahaga dan memberikan sensasi segar. Tetapi dari sisi kesehatan, tubuh kita justru membutuhkan penyesuaian yang tidak ringan,” ungkap dokter Feni dalam program Hidup Sehat tvOne.
Dampak Air Dingin pada Sistem Pencernaan
Menurut penjelasan dokter Feni, setelah berpuasa selama kurang lebih 14 jam tanpa asupan nutrisi, organ pencernaan mengalami perubahan signifikan. Produksi asam lambung menurun dan pergerakan usus melambat secara alami.
“Ketika berbuka langsung dengan air yang terlalu dingin, tubuh harus bekerja ekstra untuk menyesuaikan suhu air dengan suhu tubuh. Proses ini justru membuat pencernaan semakin lambat. Pembuluh darah mengalami konstriksi atau penyempitan, sehingga aliran darah pun ikut melambat,” jelas dokter Feni.
Dampak langsung yang bisa dirasakan adalah perut terasa begah dan cepat kenyang, padaun tubuh masih memerlukan asupan nutrisi setelah berpuasa seharian.
Risiko Kesehatan Lainnya
Selain memperlambat pencernaan, konsumsi air dingin saat perut kosong juga memicu sejumlah risiko kesehatan lain:
- Menurunkan Sistem Kekebalan Tubuh – Air dingin meningkatkan produksi lendir berlebihan di tenggorokan, yang menurunkan fungsi pertahanan tubuh dan membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi dan radang tenggorokan.
- Memicu Sakit Kepala – Air dingin merangsang saraf vagus yang menyebabkan pembuluh darah menyempit. Aliran darah ke otak melambat dan memicu sakit kepala atau migrain sesaat, meskipun biasanya akan normal kembali setelah tubuh beradaptasi.
- Memperlambat Detak Jantung – Stimulasi saraf vagus akibat air dingin juga dapat menurunkan detak jantung. Meski efek ini bisa dimanfaatkan sebagai pertolongan pertama bagi penderita jantung berdebar, konsumsi rutin saat berbuka tetap tidak dianjurkan.
Air Hangat, Pilihan Terbaik Berbuka Puasa
Dr. Feni merekomendasikan agar umat Muslim memulai berbuka dengan air hangat atau minimal air bersuhu ruangan. “Air hangat tidak membuat sistem pencernaan kaget. Beberapa penelitian membuktikan air hangat merangsang pergerakan usus sehingga proses pencernaan lebih optimal. Pembuluh darah juga melebar, membuat aliran darah lebih lancar,” paparnya.
Setelah minum air hangat, baru kemudian boleh mengonsumsi minuman dingin favorit seperti es buah atau es cendol. “Jangan langsung air es dengan banyak es batu. Beri jeda agar tubuh tidak kaget,” tambah dokter Feni.
Hindari Kombinasi Berbahaya
Dokter Feni juga mengingatkan bahaya mengombinasikan minuman manis dingin dengan gorengan atau makanan berlemak tinggi secara berlebihan. “Kombinasi ini tinggi kalori dan lemak tidak sehat yang meningkatkan risiko obesitas dan kolesterol tinggi. Dampaknya bisa mengganggu fungsi pembuluh darah dan jantung,” tegasnya.
Pentingnya Hidrasi yang Cukup
Terlepas dari perdebatan air dingin atau hangat, yang terpenting adalah memastikan tubuh terhidrasi dengan baik. “Konsumsilah minimal 2 liter atau 8 gelas air per hari untuk mencegah dehidrasi, terutama saat berpuasa,” tutup dokter Feni.
Dengan memahami fakta-fakta medis ini, diharapkan masyarakat dapat menjalani ibadah puasa dengan lebih sehat dan berkualitas.
Tips Berbuka Puasa Sehat:
- Mulai dengan 1-2 gelas air hangat atau suhu ruangan
- Konsumsi kurma atau buah manis alami
- Tunggu 10-15 menit sebelum makan berat
- Batasi gorengan dan makanan berlemak
- Minum air putih cukup antara berbuka dan sahur
- Hindari minuman berkafein berlebihan

Tinggalkan Balasan