PUNGGAWALIFE – Kebiasaan membungkus makanan dengan sembarang wadah ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak main-main. Dokter spesialis kesehatan masyarakat memperingatkan bahwa penggunaan plastik kiloan dan kertas pembungkus nasi yang umum digunakan masyarakat berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, termasuk kanker.
Dr. Sher Monike, pakar kesehatan masyarakat, menjelaskan bahwa tidak semua jenis plastik aman digunakan sebagai wadah makanan. “Plastik kiloan yang sering kita gunakan sehari-hari bukan termasuk kategori food grade atau aman untuk makanan. Penggunaan plastik jenis ini sangat tidak dianjurkan, baik untuk makanan panas maupun dingin,” ujarnya dalam sebuah wawancara kesehatan.
Bahaya Bisphenol A (BPA) dalam Plastik
Salah satu kandungan berbahaya dalam plastik non-food grade adalah Bisphenol A atau yang lebih dikenal dengan sebutan BPA. Zat kimia ini memiliki struktur yang menyerupai hormon alami tubuh manusia, sehingga dapat menimbulkan gangguan serius.
“BPA bukan zat alamiah dan keberadaannya dalam tubuh dapat memicu gangguan sistem endokrin, gangguan hormonal, hingga masalah pada sistem reproduksi,” jelas Dr. Monike. Risiko ini semakin meningkat ketika plastik bersentuhan dengan makanan bersuhu tinggi.
Kertas Pembungkus Nasi Bukan Pilihan Aman
Kertas pembungkus yang kerap digunakan untuk mengemas nasi, seperti nasi goreng atau kwetiau, ternyata juga menyimpan bahaya tersembunyi. Sebagian besar kertas pembungkus makanan terbuat dari bahan daur ulang yang mengandung berbagai zat kimia berbahaya.
“Dalam proses pembuatan kertas daur ulang, terdapat campuran bahan kimia seperti klorin dan zat-zat lainnya. Hasil penelitian menunjukkan kandungan bakteri pada kertas daur ulang ini sangat tinggi,” ungkap dokter yang concern terhadap isu kesehatan lingkungan ini.
Bahaya berlipat ganda karena kertas pembungkus nasi umumnya dilapisi plastik. Ketika digunakan untuk membungkus makanan panas, berkuah, berminyak, atau bersifat asam, lapisan plastik dan bahan kimia dari kertas dapat terlepas (leaching) dan bercampur dengan makanan yang kemudian dikonsumsi.
Styrofoam: Praktis Tapi Berisiko
Wadah styrofoam yang sangat populer di kalangan pedagang makanan juga patut diwaspadai. Meski tergolong dalam jenis plastik nomor 6 yang mengandung stirena, styrofoam sebenarnya relatif aman jika digunakan dengan benar.
“Styrofoam aman untuk makanan kering yang tidak berminyak, tidak asam, dan tidak panas. Namun bila digunakan untuk makanan dengan empat karakteristik tadi—panas, berkuah, berminyak, dan asam—maka stirena dapat terlepas dan bercampur dengan makanan,” papar Dr. Monike.
Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa penelitian menunjukkan stirena berpotensi menyebabkan keguguran pada ibu hamil dan memicu gangguan hormonal yang mengakibatkan sakit kepala.
Solusi Aman: Kembali ke Bahan Alami
Sebagai alternatif yang lebih aman, pakar kesehatan merekomendasikan penggunaan bahan-bahan alami organik seperti daun pisang, daun jati, atau daun kelapa untuk membungkus makanan. “Bahan-bahan ini tidak mengandung zat sintetis berbahaya dan sudah digunakan secara turun-temurun. Yang penting, daun harus dicuci bersih sebelum dipakai,” tegas Dr. Monike.
Untuk wadah modern yang praktis, virgin paper atau kertas khusus food grade menjadi pilihan terbaik. Kertas jenis ini berwarna agak kekuningan (gading), bukan putih sempurna, dan memiliki kemampuan tahan panas serta tahan cairan.
Aluminium foil juga tergolong relatif aman untuk digunakan sebagai pembungkus makanan. Sementara untuk plastik, harus dipastikan memiliki label food grade dan hanya digunakan sekali pakai, bukan berulang kali.
Tips Memilih Wadah Makanan yang Aman
Dr. Monike memberikan sejumlah panduan praktis bagi masyarakat dalam memilih wadah makanan:
Pertama, idealnya membawa wadah sendiri dari rumah, seperti kontainer kaca atau stainless steel yang paling aman karena tidak bereaksi dengan makanan apapun.
Kedua, bila terpaksa menggunakan wadah sekali pakai, pilih bahan organik seperti daun pisang atau daun jati yang sudah dibersihkan.
Ketiga, jika menggunakan kertas atau plastik, pastikan ada label food grade yang tertera di kemasan. Informasi ini biasanya tercantum di bagian belakang atau bawah produk.
Keempat, perhatikan batas suhu penggunaan. Beberapa plastik food grade aman digunakan hingga suhu 175 derajat Celsius, namun tetap harus mengikuti petunjuk penggunaan.
Kelima, jangan pernah menggunakan plastik atau wadah sekali pakai secara berulang-ulang, karena dapat mempercepat pelepasan zat berbahaya.
Dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan kesehatan, diharapkan baik konsumen maupun pelaku usaha kuliner dapat lebih selektif dalam memilih wadah makanan. Langkah sederhana ini dapat menjadi investasi kesehatan jangka panjang bagi keluarga Indonesia.

Tinggalkan Balasan