PUNGGAWALIFE, PROPERTY — Di atas lahan seluas 450 meter persegi di kawasan utara Bandung, berdiri sebuah hunian yang membuktikan bahwa desain arsitektur cerdas mampu menjawab tantangan sosial keluarga modern Indonesia. Rumah yang dirancang oleh Studio Avana ini bukan sekadar tempat tinggal biasa — ia adalah jawaban elegan atas pertanyaan yang dihadapi banyak pasangan muda: bagaimana tetap dekat dengan orang tua tanpa mengorbankan privasi masing-masing pihak.

Dua Rumah, Satu Kanopi, Satu Visi

Dari tampak depan, Naya House seolah tampil sebagai dua bangunan yang berdiri berdampingan. Dan memang demikianlah adanya — secara fungsi. Sisi kiri diperuntukkan bagi orang tua sang pemilik, Ramos, sementara sisi kanan dirancang sebagai hunian pribadi Ramos yang sedang mempersiapkan kehidupan berkeluarga.

Yang menyatukan keduanya bukan sekadar dinding atau pagar, melainkan sebuah kanopi tunggal yang merangkul kedua bangunan dalam satu bahasa arsitektur yang kohesif. Konsep ini mencerminkan filosofi yang mendasari keseluruhan desain: bersama namun tetap merdeka.

“Idenya adalah menghindari potensi konflik antarpenghuni, tetapi tanpa melupakan tanggung jawab kepada orang tua. Privasi masing-masing terjaga, namun kedekatan tetap terpelihara,” ungkap tim Studio Avana.

Fasad yang Bercerita: Antara Alam dan Rekayasa

Kesan pertama yang ditangkap dari eksterior rumah ini adalah dominasi material bertekstur batu alam — namun justru di sinilah kejutan pertama tersimpan. Seluruh dinding fasad yang tampak seperti kulit batu sesungguhnya merupakan material GRC (Glass Fiber Reinforced Concrete) atau papan semen yang kemudian dilapisi cat tekstur khusus, dikerjakan tangan oleh tenaga ahli cat dekoratif.

Keputusan ini bukan sekadar estetika. Studio Avana menjelaskan bahwa material kulit batu alami berukuran besar — di atas modul 60×120 cm — sangat langka di pasaran Indonesia. Jika dipaksakan dengan modul kecil, pola yang terbentuk justru akan membuat tampilan menjadi terlalu ramai dan kehilangan kesan masif yang diinginkan. Solusi GRC bercat tekstur memungkinkan kesan satu bidang batu yang utuh dan dramatis.

Pagar utama rumah pun ikut berperan dalam narasi visual ini. Terbuat dari rangka besi yang dilapisi GRC bermotif kayu, pagar setinggi ini dioperasikan dengan sistem remote, memadukan keindahan natural dengan kenyamanan modern.

Untuk area carport, lantai menggunakan andesite — batuan vulkanik bertekstur natural — sementara dinding samping menggunakan material HT bermotif batu. Keseluruhan komposisi ini menciptakan harmoni visual yang memperkuat kesan organik, selaras dengan deretan tanaman yang menghijau di sepanjang area depan.

Sistem Utilitas Tersembunyi: Fungsi yang Tak Terlihat

Salah satu detail yang kerap luput dari perhatian namun justru mencerminkan kematangan desain adalah keberadaan ruang panel utilitas yang tersembunyi di area depan. Ruangan kompak ini menampung panel listrik, perangkat WiFi, hingga perlengkapan kebersihan — sekaligus menjadi titik akses tabung gas yang menyuplai kedua unit rumah sekaligus melalui sistem perpipaan terintegrasi.

Dengan demikian, teknisi atau petugas penyedia layanan tidak perlu memasuki area privat rumah untuk keperluan servis. Privasi penghuni terlindungi, dan estetika area depan pun tetap terjaga bersih dari gangguan visual.

Taman Tengah: Jantung yang Menghidupkan

Begitu melewati pintu masuk utama — sebuah pintu custom berpanel kulit batu semen dengan sistem roda tersembunyi di bawahnya untuk menopang bobotnya yang signifikan — pengunjung disambut oleh sebuah ruang terbuka yang terasa seperti halaman vila pribadi.

Taman dalam (inner courtyard) ini menjadi elemen sentral yang menyatukan kedua unit hunian secara visual dan fungsional. Di dalamnya terdapat kolam ikan lengkap dengan pancuran air, yang menurut Ramos sudah menjadi kerinduannya sejak kecil — dan secara feng shui pun dipercaya membawa keberuntungan bagi penghuni.

Di sisi taman ini pula terdapat pohon ara udang (Rhaphidophora) yang tumbuh meliuk-liuk secara alami — sebuah pohon bersejarah yang pernah menjadi bagian dari proyek pertama Studio Avana dan kemudian diselamatkan Ramos dari klien yang hendak menggantikannya.

Taman ini bukan sekadar dekorasi. Ia berfungsi sebagai jalur sirkulasi bagi asisten rumah tangga, akses ramp bagi orang tua, sekaligus sumber penghijauan dan aliran udara segar yang menjaga kualitas iklim mikro di dalam rumah.

Wing Kiri: Surga Tenang untuk Orang Tua

Unit hunian orang tua dirancang dalam satu lantai dengan pendekatan yang mengutamakan kenyamanan dan ketenangan. Filosofi utamanya adalah menghadirkan taman ke dalam ruang tamu — diwujudkan dengan bukaan kaca besar di depan dan belakang ruang keluarga, sehingga sofa yang dapat digeser memungkinkan penghuni menikmati pemandangan kolam ikan maupun taman belakang sesuai suasana hati.

Sistem ventilasi silang menjadi andalan utama. Gap antara kusen dan plafon dirancang khusus agar udara dingin kawasan Bandung Utara dapat bersirkulasi bebas di seluruh ruangan, meminimalkan ketergantungan pada pendingin udara — bahkan ruang keluarga sama sekali tidak menggunakan AC.

Dapur dilengkapi konsep wet kitchen dan dry kitchen yang dipisahkan oleh pintu geser tidak tembus pandang, menjaga tampilan ruang tetap rapi saat ada tamu. Jendela dapur yang menghadap ke depan memastikan sirkulasi udara tetap optimal saat memasak.

Lorong menuju kamar utama menampilkan pintu seamless yang menyatu dengan dinding — detail halus yang menegaskan konsistensi desain. Kamar utama dilengkapi walking closet, dua skylight dengan kaca sunblast (bukan stiker yang berpotensi mengelupas), serta kamar mandi yang mendapat penerangan alami dari skylight dan jendela yang menghadap langsung ke taman.

Pemilihan material lantai glossy 120×120 cm dan palet warna terang mencerminkan preferensi penghuni senior, yang cenderung mengasosiasikan finishing matte dengan kesan kotor.

Wing Kanan: Ekspresi Maskulin dalam 2,5 Lantai

Jika unit orang tua memancarkan ketenangan cerah, unit Ramos hadir dengan karakter yang sama sekali berbeda — lebih gelap, lebih bold, dan lebih personal.

Dengan lebar ruang hanya 3,6 meter, arsitek bermain cerdas dengan ilusi optik. Konsep open plan menyatukan ruang tamu, pantry, dan area makan dalam satu hamparan tanpa sekat, dengan dinding kaca di kedua sisi yang memanjangkan garis pandang secara visual hingga terasa dua kali lipat dari dimensi aslinya. Perbedaan ketinggian plafon digunakan untuk mendefinisikan zona tanpa harus membangun sekat fisik.

Dapur compact dilengkapi island yang dapat diakses dari semua sisi, dishwasher tersembunyi, dan wine cooler — mencerminkan gaya hidup urban modern penghuninya. Penyimpanan di bawah tangga diakses melalui pintu tanpa pegangan (dibuka dengan kaki, inspirasi dari kebiasaan era pandemi), memaksimalkan setiap sudut ruang.

Kamar mandi lantai bawah tampil dramatis dengan plafon hitam, sanitasi warna gelap, dan pencahayaan ambient yang menciptakan atmosfer spa kontemporer.

Sistem pencahayaan cerdas (smart home) terintegrasi di seluruh unit, lengkap dengan fitur pengaturan scene melalui aplikasi ponsel. Yang paling unik adalah efek cahaya di ruang tangga — lampu yang dipasang tersembunyi di balik panel dirancang untuk menciptakan efek kedap-kedip lembut saat malam, menyerupai sinar matahari yang menerobos dedaunan pohon.

Tangga sendiri dirancang dengan lubang-lubang visual yang memungkinkan pandangan menembus ke ruang di bawahnya, menghilangkan kesan lorong sempit.

Kamar Utama: Narasi Pribadi dalam Material

Kamar utama Ramos adalah manifestasi paling personal dari seluruh hunian ini. Dindingnya sepenuhnya dilapisi panel HPL (High Pressure Laminate) dan material PU (polyurethane) yang disambung dan dicat ulang sesuai kebutuhan warna — menciptakan suasana ruang yang kohesif dan premium tanpa kesan dinding polos yang hampa.

Sistem AC split ducting tersembunyi di balik plafon, dengan akses maintenance dari lantai atas — bukan dari dalam kamar — memastikan privasi penghuni tidak terganggu saat servis rutin.

Kamar mandi utama adalah klimaks dari keseluruhan narasi: bathtub menghadap dinding kaca besar tanpa tirai, karena satu-satunya pemandangan di baliknya adalah langit Bandung dan pepohonan. Tidak ada akses dari luar. Tidak ada yang bisa mengintip. Hanya langit, hujan, dan privasi yang sempurna.

Angka di Balik Keindahan

Proses pembangunan Naya House memakan waktu sekitar 18 bulan. Tim Studio Avana memanfaatkan kontur lahan yang ada (existing contour) untuk meminimalkan volume galian dan pengurugan, mempercepat proses sekaligus menekan biaya.

Total investasi pembangunan mencapai hampir Rp5 miliar — mencakup dua unit hunian lengkap beserta seluruh elemen lansekap, kolam, taman dalam, dan infrastruktur utilitas terintegrasi. Biaya ekstra yang signifikan datang dari kebutuhan pondasi ganda: satu untuk bangunan utama, satu untuk dinding penahan tanah (retaining wall) yang memungkinkan taman melayang indah di tengah kompleks.

“Kalau bagian itu tidak dilakukan, biayanya bisa lebih rendah. Tapi itu memang dibutuhkan untuk mencapai konsep yang kami dan mama inginkan,” jelas Ramos.

Inspirasi untuk Generasi Sandwich

Naya House bukan sekadar rumah indah untuk difoto. Ia adalah solusi arsitektur yang relevan bagi jutaan keluarga Indonesia yang menghadapi dilema generasi sandwich — terjepit antara tanggung jawab merawat orang tua dan kebutuhan membangun kehidupan mandiri bersama pasangan.

Dengan satu lahan, dua bangunan, satu kanopi pemersatu, dan satu sistem utilitas terintegrasi, Studio Avana membuktikan bahwa kebersamaan dan privasi bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang. Keduanya bisa hadir dalam harmoni — jika ada visi arsitektur yang cukup berani untuk mewujudkannya.


Studio Avana dapat dihubungi melalui Instagram @studioavana.id atau situs web studioavana.id

Sumber

RADIO SUARA BERSATU FM