PUNGGAWALIFE, JAKARTA — Konsumsi jeroan masih menjadi favorit masyarakat Indonesia, terutama saat cuaca dingin atau musim hujan. Namun, di balik cita rasanya yang khas, para ahli mengingatkan pentingnya bijak dalam mengonsumsi makanan berbahan organ dalam tersebut.

Dalam program kesehatan di tvOne, dokter spesialis gizi klinik, Diana Suganda, menjelaskan bahwa jeroan seperti hati, usus, dan ampela memang mengandung nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh.

“Jeroan merupakan organ dalam hewan yang tetap memiliki kandungan gizi seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral,” ujarnya.

Namun demikian, kandungan nutrisi tersebut tidak selalu seimbang. Jeroan diketahui memiliki kadar lemak dan kolesterol yang relatif tinggi, sementara kandungan seratnya rendah. Hal ini membuat konsumsi berlebihan berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

Diana menegaskan bahwa anggapan jeroan dapat meningkatkan kadar kolesterol bukan sekadar mitos. Dalam 100 gram hati ayam, misalnya, terkandung hampir 250 miligram kolesterol, mendekati batas kebutuhan harian yang berkisar antara 200 hingga 300 miligram.

Jika dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus, kolesterol tersebut dapat menumpuk di pembuluh darah dan memicu terbentuknya plak aterosklerosis, yang pada akhirnya meningkatkan risiko stroke.

Selain itu, jeroan juga mengandung purin dalam jumlah tinggi yang dapat memicu peningkatan kadar asam urat. Kondisi ini berisiko menyebabkan hiperkurisemia jika tidak dikontrol dengan baik.

Tak hanya itu, proses pengolahan yang kurang higienis atau tidak matang sempurna juga berpotensi menimbulkan infeksi parasit. Parasit seperti cacing dapat hidup di saluran pencernaan hewan dan berpindah ke manusia jika jeroan tidak dimasak hingga matang.

Dari sisi pencernaan, konsumsi jeroan dalam jumlah besar juga dapat menimbulkan keluhan seperti kembung dan rasa tidak nyaman. Hal ini disebabkan oleh tingginya kandungan lemak yang lebih sulit dicerna oleh tubuh.

Meski demikian, masyarakat tidak sepenuhnya harus menghindari jeroan. Konsumsi tetap diperbolehkan selama dalam jumlah terbatas dan diimbangi dengan pola makan sehat.

“Batasi konsumsi sekitar 100 gram per porsi dan lengkapi dengan sayuran tinggi serat untuk membantu mengurangi penyerapan kolesterol,” kata Diana.

Ia juga menekankan pentingnya memastikan jeroan dimasak hingga matang sempurna guna menghindari risiko infeksi.

Dengan pengolahan yang tepat dan porsi yang terkontrol, jeroan masih dapat menjadi bagian dari menu makanan. Namun, kesadaran untuk mengonsumsi secara bijak menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan.

RADIO SUARA BERSATU FM