PUNGGAWALIFE, JAKARTA — Buah tin atau buah ara dikenal luas sebagai salah satu buah yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Dalam sebuah program kesehatan di tvOne, spesialis gizi klinis Ida Gunawan menjelaskan bahwa konsumsi buah tin secara rutin dapat memberikan berbagai efek positif bagi tubuh, meski tidak semua klaim yang beredar di masyarakat terbukti benar.
Menurut Ida, buah tin terbukti membantu mencegah hipertensi. Hal ini karena kandungan kalium (potasium) yang tinggi pada buah tersebut berperan penting dalam menjaga tekanan darah tetap stabil. Ia menambahkan, pada dasarnya hampir semua buah memiliki kandungan kalium, sehingga konsumsi buah secara beragam sangat dianjurkan.
Selain itu, buah tin juga dinilai baik untuk kesehatan jantung. Kandungan serat yang tinggi serta rendahnya kadar kolesterol dalam buah ini membantu mengontrol kadar lemak dalam darah. Serat berfungsi mengikat lemak berlebih agar dapat dikeluarkan dari tubuh, sehingga risiko penyakit jantung dapat ditekan.
“Buah tin juga mengandung lemak baik yang berkontribusi dalam melindungi fungsi jantung,” ujar Ida.
Tak hanya itu, kandungan serat yang tinggi pada buah tin juga bermanfaat untuk mengatasi wasir. Dalam satu porsi sekitar 40 gram, buah tin mengandung sekitar 3 gram serat, terutama jika dikonsumsi bersama kulitnya.
Dari sisi vitalitas, buah tin juga memiliki peran penting. Kandungan antioksidan di dalamnya membantu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Bahkan, beberapa senyawa seperti angelicin disebut memiliki potensi dalam membantu mencegah jenis kanker tertentu, seperti kanker kulit dan prostat.
Buah tin juga dapat membantu mengatasi anemia karena mengandung zat besi. Namun, Ida mengingatkan bahwa penyerapan zat besi dari sumber nabati perlu didukung asupan protein agar lebih optimal.
Meski demikian, tidak semua anggapan tentang buah tin terbukti benar. Klaim bahwa buah tin dapat menyembuhkan diabetes dipastikan sebagai mitos. Menurut Ida, diabetes merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, tetapi bisa dikendalikan melalui pola makan sehat.
“Buah tin tetap mengandung gula alami seperti glukosa dan fruktosa, sehingga konsumsinya harus dibatasi, terutama bagi penyandang diabetes,” jelasnya.
Ia menyarankan konsumsi buah bagi penderita diabetes tetap diperbolehkan, namun dalam jumlah terkontrol, yakni sekitar tiga hingga empat porsi per hari dengan komposisi seimbang bersama sayuran.
Sementara itu, anggapan bahwa buah tin dapat meredakan stres dan insomnia juga tidak terbukti secara medis. Meskipun makanan tertentu dapat membantu relaksasi, namun tidak bisa dijadikan sebagai terapi utama untuk gangguan tersebut.
Untuk mendapatkan manfaat maksimal, Ida menyarankan buah tin dikonsumsi dalam kondisi segar tanpa melalui banyak proses pengolahan. Penambahan gula dalam olahan seperti selai justru dapat mengurangi manfaat kesehatan yang diharapkan.
“Yang terpenting adalah konsumsi buah secara rutin, bervariasi, dan dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan,” tutupnya.
Dengan berbagai kandungan nutrisi yang dimilikinya, buah tin tetap menjadi pilihan sehat dalam pola makan sehari-hari, selama dikonsumsi secara bijak dan seimbang.

Tinggalkan Balasan