Pterygoplichthys disjunctivus hadir sebagai ancaman kedua. Secara kasat mata nyaris identik dengan P. pardalis, perbedaan baru tampak jelas saat dilakukan pengamatan teliti pada pola bercak di tubuhnya. Kehadiran spesies kedua ini menandakan bahwa invasi di perairan Indonesia bukan lagi urusan satu jenis ikan, melainkan gelombang serangan dari beberapa spesies sekaligus.
Yang lebih merisaukan adalah munculnya bentuk hibrida — individu-individu dengan ciri campuran yang tidak sepenuhnya cocok dengan spesies manapun. Persilangan di alam ini mempersulit identifikasi lapangan dan membuka kemungkinan lahirnya populasi dengan kemampuan adaptasi yang bahkan lebih tinggi dari induknya.
Kerusakan yang Tak Selalu Kasat Mata
Dampak meledaknya populasi ikan sapu-sapu berlapis-lapis. Pada lapis pertama, tekanan terhadap ikan asli terjadi melalui perebutan makanan dan teritorial. Pada lapis berikutnya, dominasi spesies ini mengubah struktur komunitas ikan secara keseluruhan — keanekaragaman hayati menurun, sungai menjadi kurang sehat, dan rantai makanan yang telah berlangsung lama pun terganggu.
Di sejumlah lokasi, aktivitas ikan ini juga dituding memperparah erosi tebing sungai dan melemahkan tanggul. Meski hubungan sebab-akibat ini masih terus dikaji, satu hal tidak terbantahkan: kehadiran jutaan ekor ikan sapu-sapu di perairan umum adalah beban ekologis yang nyata.

Tinggalkan Balasan