PUNGGAWALIFE — Anggapan bahwa kebiasaan mencukur rambut dapat membuat rambut tumbuh semakin tebal dan kasar telah lama beredar luas di masyarakat. Kepercayaan ini biasanya muncul ketika seseorang baru pertama kali mencukur bulu tangan, bulu kaki, atau merapikan kumis dan janggut. Beberapa hari setelahnya, rambut yang tumbuh kembali terasa lebih menusuk saat disentuh, seolah-olah membuktikan kebenaran mitos tersebut. Namun, benarkah demikian?

Jawabannya tidak. Para ahli medis menegaskan bahwa yang berubah bukan karakter rambut itu sendiri, melainkan bentuk ujungnya dan cara kulit merasakannya. Untuk memahami hal ini, perlu diketahui bahwa rambut tumbuh dari folikel yang berada di bawah permukaan kulit. Bagian rambut yang sudah keluar dari kulit pada dasarnya merupakan jaringan yang tidak lagi hidup, sehingga tidak dapat berubah sifat hanya karena dipotong.

Pisau cukur hanya memangkas batang rambut di permukaan, tanpa sedikit pun menyentuh folikel, akar, maupun mekanisme produksi rambut di bawah kulit. Karena itulah, lembaga kesehatan terkemuka seperti Mayo Clinic menegaskan bahwa mencukur sama sekali tidak membuat rambut tumbuh lebih tebal atau lebih gelap.

Kunci dari kesalahpahaman ini terletak pada efek yang memang nyata dirasakan setelah mencukur. Rambut yang sebelumnya memiliki ujung tipis dan meruncing, usai dicukur akan memiliki ujung yang rata dan tumpul. Ujung yang rata inilah yang kemudian terasa lebih kaku ketika rambut tumbuh beberapa milimeter dan bersentuhan dengan jari atau bergesekan dengan pakaian.