PUNGGAWALIFE, Penyakit jantung hingga kini masih tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi secara global. Ironisnya, kondisi yang kerap dijuluki silent killer ini tidak mengenal batas usia maupun status sosial. Siapa pun bisa menjadi korbannya, bahkan tanpa peringatan yang jelas.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Renan Sokmawan, menjelaskan bahwa penyakit jantung memiliki spektrum yang sangat luas, mulai dari kelainan bawaan, hipertensi, hingga yang paling umum dan mematikan yakni jantung koroner. Penyakit jantung koroner terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah yang bertugas mengalirkan darah ke dinding jantung. Ketika suplai oksigen dan nutrisi terganggu, tubuh mulai memberikan sinyal berupa nyeri dada, sesak napas, hingga rasa tidak nyaman di ulu hati.

Banyak masyarakat yang keliru membedakan gejala jantung dengan gangguan lambung karena kemiripan gejalanya. Menurut dr. Renan, gejala jantung koroner yang perlu diwaspadai adalah nyeri dada atau nyeri ulu hati yang muncul saat beraktivitas, disertai keringat dingin, mual, dan rasa nyeri yang menjalar ke lengan kiri, rahang, atau punggung. Kondisi ini dalam dunia medis dikenal sebagai angina, atau yang dalam bahasa awam sering disebut angin duduk.

“Kalau duduk-duduk tiba-tiba nyeri dada itu berbeda dengan angina. Angina biasanya dipicu oleh aktivitas fisik,” ujarnya.

Dari sisi gender, data statistik menunjukkan bahwa pria memiliki risiko mengalami serangan jantung hingga dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan wanita. Salah satu faktornya adalah hormon estrogen pada wanita yang berperan menjaga elastisitas pembuluh darah. Sebaliknya, pada pria, seiring bertambahnya usia, pembuluh darah cenderung mengeras dan lebih rentan terhadap penumpukan kolesterol yang memicu aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah.