Waspada! Ini Fakta di Balik Bahaya Air Minum Kemasan yang Terpapar Panas

PUNGGAWALIFE — Kebiasaan meninggalkan botol air minum di dalam mobil atau di bawah sinar matahari ternyata menyimpan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat. Dokter spesialis okupasi mengingatkan bahwa ada sejumlah faktor penting yang harus dipahami sebelum mengonsumsi air kemasan yang telah lama tersimpan dalam kondisi terpapar panas.

Menurut penjelasan dokter tersebut, ancaman pertama justru bukan berasal dari bahan botolnya, melainkan dari kontaminasi bakteri. Botol yang sudah pernah dibuka berpotensi menjadi tempat berkembangnya kuman yang berpindah dari mulut penggunanya. Oleh karena itu, sebelum meminum air yang sudah lama tersimpan di dalam kendaraan, masyarakat disarankan untuk mempertimbangkan sudah berapa lama botol tersebut berada di sana.

Risiko kedua berkaitan dengan kandungan kimia dalam plastik kemasan. Saat botol plastik terpapar sinar matahari atau panas dalam waktu tertentu, senyawa kimia bernama Bisfenol A atau BPA berpotensi luruh dan masuk ke dalam air. Senyawa ini dikenal memiliki sifat menyerupai hormon estrogen pada tubuh manusia, sehingga jika masuk ke dalam tubuh dapat memicu ketidakseimbangan hormonal yang pada akhirnya berisiko memunculkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk kanker.

Meski demikian, dokter tersebut menegaskan bahwa kadar BPA yang terlepas masih berada di bawah ambang batas berbahaya. Masyarakat tidak perlu panik hanya karena sesekali mengonsumsi air dari botol yang sempat terkena panas. Namun, sebagai langkah pencegahan, kebiasaan ini sebaiknya tetap dihindari demi menjaga kesehatan jangka panjang.

Wadah Makanan Berbahaya: Plastik Kiloan Hingga Kertas Nasi Berpotensi Picu Gangguan Kesehatan

PUNGGAWALIFE – Kebiasaan membungkus makanan dengan sembarang wadah ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak main-main. Dokter spesialis kesehatan masyarakat memperingatkan bahwa penggunaan plastik kiloan dan kertas pembungkus nasi yang umum digunakan masyarakat berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, termasuk kanker.

Dr. Sher Monike, pakar kesehatan masyarakat, menjelaskan bahwa tidak semua jenis plastik aman digunakan sebagai wadah makanan. “Plastik kiloan yang sering kita gunakan sehari-hari bukan termasuk kategori food grade atau aman untuk makanan. Penggunaan plastik jenis ini sangat tidak dianjurkan, baik untuk makanan panas maupun dingin,” ujarnya dalam sebuah wawancara kesehatan.

Bahaya Bisphenol A (BPA) dalam Plastik

Salah satu kandungan berbahaya dalam plastik non-food grade adalah Bisphenol A atau yang lebih dikenal dengan sebutan BPA. Zat kimia ini memiliki struktur yang menyerupai hormon alami tubuh manusia, sehingga dapat menimbulkan gangguan serius.

“BPA bukan zat alamiah dan keberadaannya dalam tubuh dapat memicu gangguan sistem endokrin, gangguan hormonal, hingga masalah pada sistem reproduksi,” jelas Dr. Monike. Risiko ini semakin meningkat ketika plastik bersentuhan dengan makanan bersuhu tinggi.

Ilmuwan Kembangkan Obat Kanker dari Keladi Tikus dengan Efektivitas 10 Kali Lipat

PUNGGAWALIFE, BLOG — Peneliti Indonesia berhasil mengembangkan varietas unggul keladi tikus (Typhonium flagelliforme) yang berpotensi menjadi terobosan dalam pengobatan kanker. Tanaman hias yang selama ini dikenal sebagai tanaman dekoratif ini ternyata menyimpan kandungan senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan sel kanker.

Keladi tikus merupakan tumbuhan sejenis talas yang berasal dari Asia dan tumbuh di tempat terbuka pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Menurut data Cancer Chemoprevention Research Center (CCRC) Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, tanaman ini tersebar di Malaysia, Indonesia, dan Korea Selatan. Di Indonesia, keladi tikus dapat ditemukan di sepanjang Pulau Jawa, sebagian Kalimantan, Sumatra, dan Papua.

Secara morfologi, keladi tikus memiliki ciri khas daun hijau bulat berujung runcing dengan tinggi 25-30 cm dan umbi berbentuk bulat sebesar buah pala.

Kandungan Senyawa Antikanker

Penelitian menunjukkan bahwa keladi tikus mengandung senyawa bioaktif yang mampu menghambat hingga mematikan pertumbuhan sel kanker, yaitu alkaloid, triterpenoid, dan lignan (polifenol). Selain itu, tanaman ini juga memiliki kemampuan mengurangi efek samping kemoterapi dan bersifat antibakteri.

Tim peneliti dari Food Biotechnology Research Center (FBRC) Binus University yang dipimpin Prof. Dr. Nesti F. Sianipar telah mengembangkan keladi tikus melalui kultur jaringan sel in vitro sejak 2012. Penelitian ini berhasil menghasilkan tiga varietas unggul baru bernama Tipobio, Typonesiaraga, dan Binusantara 1.

“Memiliki nilai 10 kali lebih efektif sebagai bahan baku antikanker, terutama breast cancer,” ungkap Nesti dalam pertemuan dengan Dewan Guru Besar Binus University di Jakarta, Selasa (1/7/2025).

Uji Klinis Menunjukkan Hasil Menggembirakan

Ekstrak unggul keladi tikus Tipobio telah diuji terhadap sel kanker payudara (MCF-7) dan menunjukkan efek sitotoksisitas yang lebih tinggi dibandingkan tanaman asalnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak ini dapat menyebabkan apoptosis (kematian sel terprogram) pada sel kanker dalam waktu 24 jam.

Temuan ini memberikan harapan baru dalam penanganan kanker payudara yang masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat Indonesia.

Menuju Komersialisasi

Saat ini, tim peneliti Binus telah menjalin kerja sama dengan industri farmasi dan sedang dalam proses pengurusan perizinan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Obat kanker berbahan keladi tikus ini rencananya akan dipasarkan dalam bentuk kapsul.

“Mudah-mudahan tahun depan Binus ulang tahun, kita sudah bisa konsumsi, izinnya sudah keluar dari Badan POM, kita langsung bisa konsumsi bagi penderita (kanker),” harap Nesti.

Inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengobatan kanker yang lebih terjangkau dan efektif bagi masyarakat Indonesia.

Exit mobile version