Tren Roti Sourdough Melonjak, Benarkah Lebih Sehat? Ini yang Terjadi pada Tubuh Jika Dikonsumsi Setiap Hari

PUNGGAWALIFE, MAKASSAR – Minat masyarakat terhadap gaya hidup sehat terus mengalami peningkatan signifikan belakangan ini. Salah satu fenomena yang turut mewarnai tren tersebut adalah semakin banyaknya orang yang mulai membuat roti sourdough secara mandiri di rumah. Selain proses pembuatannya yang dianggap menyenangkan, roti fermentasi ini juga dikenal luas memiliki keunggulan nilai gizi dibandingkan roti konvensional pada umumnya.

Meski begitu, penting untuk dipahami bahwa sourdough tetap mengandung karbohidrat dalam jumlah yang cukup tinggi dan tidak selalu berbahan dasar gandum utuh. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh apabila roti ini dikonsumsi setiap hari?

Kandungan Gizi yang Beragam

Nilai nutrisi dalam roti sourdough tidak bisa dipukul rata, sebab setiap produsen maupun pembuatnya menggunakan bahan dan metode yang berbeda-beda. Secara umum, sourdough yang terbuat dari tepung gandum mengandung karbohidrat sebagai sumber energi utama, sejumlah vitamin B seperti folat, riboflavin, dan tiamin, serta berbagai mineral penting termasuk selenium, mangan, zinc, dan zat besi. Kandungan tersebut memainkan peran krusial dalam metabolisme energi, ketahanan imun, serta kesehatan tulang.

Apabila sourdough dibuat dari gandum utuh, manfaatnya akan semakin berlipat karena kandungan protein, lemak sehat, dan serat yang jauh lebih tinggi. Kombinasi nutrisi ini berkontribusi pada kesehatan sistem pencernaan, jantung, dan otak, sekaligus membantu menstabilkan kadar gula darah. Nilai gizinya pun dapat meningkat lebih jauh apabila ditambahkan bahan-bahan pelengkap seperti kacang-kacangan, biji-bijian, atau rempah.

Pakar Kesehatan Ingatkan Bahaya Langsung Makan Berat Saat Berbuka Puasa

PUNGGAWALIFE – Menjelang waktu berbuka puasa, banyak orang sudah membayangkan berbagai hidangan lezat yang akan disantap. Namun, kebiasaan langsung mengonsumsi makanan berat seperti nasi atau lauk pauk dalam porsi besar ternyata dapat menimbulkan masalah kesehatan pada lambung.

Prof. Dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD, pakar penyakit dalam sekaligus konsultan gastroenterologi, menjelaskan bahwa lambung memerlukan penyesuaian bertahap setelah kosong selama 13-14 jam. “Ketika berbuka, kita harus mengonsumsi makanan dan minuman secara bertahap, tidak boleh langsung dengan makanan berat,” ujarnya dalam program kesehatan di salah satu stasiun televisi nasional.

Kondisi Lambung Selama Berpuasa

Menurut Prof. Ari, setelah sahur pada pukul 03.30 dini hari, lambung akan benar-benar kosong dalam rentang waktu 6-7 jam kemudian. Kondisi ini dapat menyebabkan produksi gas berlebih dan rasa tidak nyaman, terutama pada minggu pertama puasa. “Biasanya setelah minggu kedua, lambung akan menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut dan keluhan berkurang,” jelasnya.

Meski demikian, guru besar Ilmu Penyakit Dalam ini menekankan bahwa puasa Ramadan justru memberikan dampak positif bagi kesehatan lambung. Pola makan yang teratur saat sahur dan berbuka, ditambah dengan pengurangan konsumsi makanan tidak sehat seperti gorengan serta pengendalian diri yang lebih baik, dapat membuat lambung menjadi lebih sehat.

Exit mobile version