Selama tujuh bulan di jalan, ia tidak menginap di hotel mewah. Tenda menjadi rumahnya di banyak malam. Sesekali, kebaikan warga yang ditemui di perjalanan menawarkan tempat berlindung — sebuah pengalaman yang justru memperkaya perjalanannya melebihi itinerary mana pun.
Membawa muatan 60 kilogram di atas sepeda bukan hal yang mudah. Setiap tanjakan terasa berlipat ganda beratnya, setiap cuaca buruk menjadi ujian tersendiri. Di Asia Tenggara, tantangan terbesar yang dihadapi Arezo adalah terik matahari dan kelembapan udara yang menguras tenaga lebih cepat dari yang bisa dibayangkan.
Keamanan juga menjadi perhatian serius. Bersepeda seorang diri sebagai perempuan melintasi berbagai negara dengan karakter jalan dan budaya yang berbeda-beda menuntut kewaspadaan tinggi. Namun Arezo tak pernah menyebut itu sebagai alasan untuk berhenti.
Di Jakarta, ia sempat berinteraksi dengan warga dan membagikan materi kampanye Slow Life-nya. Kehadirannya mengundang perhatian — seorang perempuan Iran dengan sepeda penuh muatan, tersenyum di tengah keramaian ibu kota Indonesia.
Perjalanannya di Indonesia belum berakhir di Jakarta. Dari ibu kota, Arezo berencana mengayuh sepedanya menuju Denpasar, Bali. Pulau Dewata menjadi perhentian berikutnya sebelum ia meneruskan petualangan lintas benua menuju India.
