TANGERANG, PUNGGAWALIFE – Di tengah ritme kehidupan perkotaan yang kian cepat, peran perempuan di dunia kerja terus mengalami perluasan. Namun, di saat yang sama, tanggung jawab dalam pengasuhan anak tetap menjadi prioritas yang tidak tergantikan. Kondisi ini memunculkan kebutuhan akan sistem pendukung yang mampu menjembatani keduanya, terutama pada fase awal kehidupan anak yang sangat menentukan.
Kehadiran fasilitas pengasuhan seperti Mika Preschool & Daycare di BSD, Tangerang, mencerminkan perubahan kebutuhan keluarga modern. Layanan ini tidak hanya menjadi bentuk ekspansi pendidikan anak usia dini, tetapi juga bagian dari upaya menciptakan ekosistem yang memungkinkan perempuan tetap berkembang secara profesional tanpa mengabaikan perannya sebagai orang tua.
Periode seribu hari pertama kehidupan hingga usia lima tahun kerap disebut sebagai masa emas. Pada fase ini, perkembangan otak berlangsung sangat pesat, sehingga membutuhkan dukungan berupa stimulasi yang tepat, asupan nutrisi yang memadai, serta lingkungan yang aman dan responsif.
Dokter anak, Dr. Dewi Kartika Suryani, menjelaskan bahwa pengasuhan tidak cukup hanya berfokus pada kebutuhan fisik anak. Ia menekankan pentingnya interaksi aktif antara anak dan pengasuh. Menurutnya, dalam dua tahun pertama, jutaan koneksi saraf terbentuk setiap detik, sehingga stimulasi melalui interaksi dua arah menjadi kunci perkembangan optimal.
Konsep interaksi timbal balik atau serve and return disebut tidak dapat digantikan oleh paparan layar atau aktivitas pasif. Hal ini mempertegas bahwa kualitas interaksi memiliki peran krusial dalam membangun fondasi perkembangan anak.
Dalam dinamika keluarga masa kini, pengasuhan tidak lagi menjadi tanggung jawab tunggal. Peran pasangan, keluarga besar, hingga institusi seperti daycare menjadi bagian dari sistem yang saling melengkapi. Co-Founder Mika Education Center, Marta Yuliana, menilai kebutuhan akan daycare semakin nyata, terutama bagi ibu yang menjalani peran ganda sebagai pekerja dan orang tua.
Ia menyebutkan bahwa daycare bukan untuk menggantikan peran orang tua, melainkan menjadi pelengkap agar anak tetap mendapatkan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang, sementara orang tua dapat bekerja dengan tenang.
Dari sisi dunia kerja, akses terhadap layanan pengasuhan anak yang berkualitas juga berdampak langsung pada keberlanjutan karier perempuan. Tanpa dukungan tersebut, banyak perempuan dihadapkan pada dilema antara keluarga dan pekerjaan.
Senior Vice President Human Capital Services Group di sebuah institusi perbankan nasional, Sriyani Puspa Kinasih, menilai dukungan terhadap perempuan tidak dapat dipisahkan dari dukungan terhadap keluarga. Ia menekankan pentingnya akses childcare yang memadai agar perempuan dapat berkontribusi optimal, baik di rumah maupun di tempat kerja.
Menurutnya, perusahaan juga memiliki tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dengan memahami kebutuhan spesifik karyawan perempuan.
Isu pengasuhan juga berkaitan dengan konsep care economy, yang menyoroti pentingnya penghargaan terhadap pekerjaan perawatan, termasuk peran para pengasuh. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rini Handayani, menekankan perlunya perlindungan dan peningkatan kapasitas bagi para caregiver.
Ia menyebutkan bahwa kualitas pengasuhan sangat dipengaruhi oleh kompetensi pengasuh, sehingga pelatihan dan penghargaan yang layak menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Dalam praktiknya, daycare modern kini telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar tempat penitipan anak. Fasilitas ini berkembang menjadi ruang belajar, tempat bersosialisasi, serta sarana membangun kemandirian sejak dini. Rutinitas yang terstruktur, interaksi dengan teman sebaya, hingga kebiasaan sederhana seperti makan bersama dan tidur siang terjadwal memberikan kontribusi penting bagi perkembangan anak.
Keseimbangan antara karier dan keluarga memang tidak selalu mudah dicapai. Namun, dengan dukungan dari berbagai pihak—keluarga, lingkungan kerja, dan institusi pengasuhan—perempuan memiliki peluang lebih besar untuk menjalani keduanya secara optimal.
Pada akhirnya, isu ini tidak hanya menyangkut perempuan, tetapi juga masa depan generasi berikutnya. Ketika orang tua mendapatkan dukungan yang memadai, anak-anak pun tumbuh dalam lingkungan yang lebih sehat dan berkualitas.
FAQ (Pertanyaan Umum)
1. Mengapa daycare penting bagi orang tua bekerja?
Daycare membantu orang tua, terutama ibu bekerja, dengan menyediakan lingkungan aman dan edukatif bagi anak, sehingga mereka dapat fokus bekerja tanpa mengabaikan tumbuh kembang anak.
2. Apa yang dimaksud masa golden age pada anak?
Golden age adalah periode sejak lahir hingga usia lima tahun, di mana perkembangan otak anak berlangsung sangat cepat dan membutuhkan stimulasi optimal.
3. Bagaimana daycare mendukung perkembangan anak?
Daycare menyediakan stimulasi, interaksi sosial, serta rutinitas terstruktur yang membantu perkembangan kognitif, emosional, dan kemandirian anak.

Tinggalkan Balasan