PUNGGAWALIFE, SIDNEY — Sebuah pergeseran perilaku yang cukup mengejutkan tengah berlangsung di Australia. Negara yang selama ini lekat dengan citra gaya hidup modern, jalan raya lebar, dan kepemilikan kendaraan pribadi sebagai kebanggaan, kini menyaksikan warganya secara perlahan meninggalkan setir mobil dan beralih mengayuh pedal sepeda. Bukan sekadar tren olahraga musiman, melainkan respons nyata terhadap tekanan ekonomi yang kian terasa di kehidupan sehari-hari.
Pemandangan di berbagai kota besar seperti Sydney, Melbourne, dan Brisbane pun mulai berubah. Arus lalu lintas yang biasanya didominasi kendaraan bermesin kini perlahan diwarnai oleh para pesepeda yang melaju menuju kantor, pasar swalayan, bahkan sekolah untuk menjemput anak. Pergeseran ini bukan soal gengsi atau tren semata, melainkan keputusan ekonomi yang diperhitungkan matang-matang oleh jutaan rumah tangga di negeri Kanguru itu.
Data dari survei terbaru Climate Council of Australia mengungkap realitas yang cukup mengkhawatirkan. Tujuh dari sepuluh warga Australia atau sekitar 71 persen mengaku sedang berupaya keras memangkas pengeluaran transportasi harian mereka. Lonjakan harga bahan bakar minyak di pasar global menjadi pemicu utama yang memukul keras anggaran rumah tangga, mendorong mereka mencari alternatif yang jauh lebih ramah di kantong.
Dan angka-angkanya memang berbicara lantang. Sebuah keluarga kecil dengan dua anak di Australia rata-rata harus menggelontorkan sekitar 459 dolar Australia setiap pekan hanya untuk keperluan kendaraan. Bila dikonversikan ke rupiah, jumlah itu setara dengan hampir Rp5 juta per minggu, atau lebih dari Rp20 juta setiap bulannya. Angka yang tidak sedikit bahkan untuk ukuran negara maju sekalipun.

Tinggalkan Balasan