PUNGGAWAFOOD – Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan, banyak masyarakat yang mengalami perubahan drastis dalam pola makan saat merayakan Idul Fitri. Fenomena “balas dendam” atau kalap dalam mengonsumsi berbagai hidangan lebaran ternyata dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan tubuh, bahkan hanya dalam waktu dua hari.
Dr. Irsan Hasan, Sp.PD, spesialis penyakit dalam, mengingatkan bahwa meskipun puasa Ramadhan terbukti memberikan manfaat kesehatan, bukan berarti pemeriksaan kesehatan rutin dapat diabaikan pasca lebaran. “Anggapan bahwa tubuh otomatis lebih sehat setelah berpuasa selama sebulan sehingga tidak perlu medical check-up adalah mitos yang keliru,” tegasnya.
Puasa dan Kesehatan: Tidak Selalu Berbanding Lurus
Menurut Dr. Irsan, memang banyak penelitian yang menunjukkan hubungan positif antara puasa dan peningkatan derajat kesehatan. Bahkan, asupan kalori rendah dalam jangka panjang dikaitkan dengan usia yang lebih panjang. Namun, realitanya tidak semua orang menjalankan puasa dengan mengurangi asupan kalori.
“Banyak masyarakat yang justru memindahkan jam makan dari siang ke malam. Bahkan, porsi berbuka puasa seringkali lebih banyak dibanding makan siang biasa. Satu meja penuh lauk pauk saat berbuka adalah pemandangan umum,” jelasnya.
Ia menambahkan, meski seseorang menjalankan puasa sesuai sunnah—berbuka dengan kurma, shalat, kemudian makan sedikit sebelum tarawih—pemeriksaan kesehatan tetap diperlukan. Pasalnya, kondisi seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor makanan saja.

Tinggalkan Balasan