Penjelasan ini tercatat dalam berbagai ulasan medis yang tersedia di NCBI/PMC, bahwa tampilan lebih gelap pada rambut baru sering disalahartikan sebagai tanda rambut yang menebal, padahal penyebabnya semata-mata adalah minimnya paparan lingkungan.

Lalu, apa sesungguhnya yang menentukan tebal atau tipisnya rambut seseorang? Jawabannya bukan pada pisau cukur, melainkan pada genetik dan hormon. Ada individu yang sejak lahir memiliki rambut tubuh lebih tebal akibat faktor keturunan, sementara yang lain tetap memiliki rambut halus meski rajin mencukur. Perubahan jenis rambut yang benar-benar terjadi biasanya berkaitan dengan fase kehidupan dan perubahan hormonal, seperti masa pubertas, bukan akibat aktivitas mencukur.

Mitos ini juga semakin mengakar karena perubahan pola perhatian seseorang setelah mulai mencukur. Area yang dicukur cenderung lebih sering diamati dan diraba. Hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah diperhatikan tiba-tiba menjadi terasa besar. Ditambah dengan siklus alami pertumbuhan rambut yang kadang memang lebih ramai di periode tertentu, apabila momen itu kebetulan berbarengan dengan kebiasaan mencukur, maka orang pun semakin yakin ada hubungan sebab-akibat yang sebenarnya tidak ada.

Secara ilmiah, gagasan bahwa mencukur membuat rambut tumbuh lebih tebal sudah lama diteliti dan dibantah. Berbagai studi klasik maupun rangkuman sumber medis modern secara konsisten menegaskan kesimpulan yang sama: mencukur hanya memberi kesan berbeda pada rambut yang baru tumbuh, tanpa mengubah karakter dasarnya sedikit pun.