Beban itu terasa semakin berat ketika melihat proporsinya terhadap penghasilan. Rumah tangga di kawasan perkotaan rata-rata harus merelakan sekitar 17 persen dari total pendapatan bulanan mereka untuk pos transportasi saja. Sementara warga di wilayah pedesaan, meski sedikit lebih ringan, tetap harus mengalokasikan sekitar 15,4 persen gaji mereka untuk keperluan yang sama.
Yang membuat situasi ini makin rumit adalah kenyataan bahwa memiliki mobil bukan hanya soal mengisi tangki bahan bakar. Sederet pengeluaran lain sudah menunggu di belakangnya, mulai dari cicilan kredit dengan bunga yang terus bergerak naik, premi asuransi, biaya servis berkala, penggantian ban, hingga biaya registrasi kendaraan tahunan. Semua pos pengeluaran itu menjadikan mobil yang dulu diagung-agungkan sebagai simbol kemapanan, kini justru terasa seperti beban finansial yang menyedot kantong setiap bulannya.
Dampak dari tekanan ini terlihat jelas di industri otomotif. Data Federal Chamber of Automotive Industries (FCAI) mencatat penjualan kendaraan baru di Australia telah mengalami penurunan dua bulan berturut-turut, sebuah penurunan terbesar dalam dua tahun terakhir. Bulan lalu, angka penjualan hanya menyentuh 99.881 unit, merosot 9,8 persen dibanding periode sebelumnya. Konsumen semakin berhati-hati dan enggan menambah komitmen finansial baru di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi.
Di sinilah sepeda hadir sebagai jawaban paling praktis dan paling masuk akal. Tidak butuh bahan bakar, tidak memerlukan asuransi wajib, dan biaya perawatannya sangat terjangkau dibandingkan kendaraan bermesin. Ditambah lagi, banyak pemerintah kota di Australia yang mulai serius membenahi infrastruktur jalur sepeda agar lebih aman dan nyaman, sehingga semakin banyak warga yang berani mencoba beralih.

Tinggalkan Balasan