PUNGGAWALIFE, Drama pagi hari yang diwarnai tangisan dan penolakan anak untuk berangkat sekolah menjadi salah satu situasi yang paling menguras energi bagi banyak orang tua. Di tengah tekanan waktu dan rutinitas harian, mempertahankan ketenangan sambil mencari akar permasalahan tentu bukan perkara mudah. Namun justru di sinilah kunci penanganannya — respons yang tenang dan penuh empati akan jauh lebih efektif dibandingkan reaksi yang emosional.
Para ahli mengingatkan bahwa perilaku enggan sekolah pada anak hampir selalu berakar dari kecemasan atau ketidaknyamanan yang mereka rasakan di lingkungan belajar. Perasaan sulit bergaul, tekanan akademis yang terasa berat, hingga hubungan yang kurang baik dengan guru atau teman sekelas bisa menjadi pemicu utama. Bahkan kondisi di rumah pun turut berpengaruh — situasi seperti perceraian orang tua atau masa berkabung dapat meninggalkan jejak yang cukup dalam pada psikologi anak.
Tak jarang pula kondisi neurodiversitas seperti ADHD atau disleksia yang belum terdiagnosis menjadi faktor tersembunyi yang membuat pengalaman belajar di sekolah terasa sangat menyiksa bagi anak. Kondisi semacam ini sering kali luput dari perhatian karena anak tidak selalu mampu mengungkapkannya secara verbal.
Langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah membuka ruang komunikasi yang tulus. Anak yang sedang dalam kondisi stres tinggi kerap kesulitan mengartikulasikan rasa takut mereka secara langsung. Salah satu pendekatan yang bisa dicoba adalah mengajak mereka menggambar atau menuliskan apa yang mereka rasakan — sebuah metode sederhana namun efektif untuk memetakan masalah yang tersembunyi di balik penolakan mereka.

Tinggalkan Balasan