Akar dari penyakit hati ini sesungguhnya terhubung dengan dua potensi yang dibawa setiap roh ketika ditiupkan Allah ke dalam jasad manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Asy-Syams ayat 7 hingga 10, setiap nafsu manusia membawa dua kutub: fujur sebagai potensi keburukan, dan taqwa sebagai potensi kebaikan. Sifat marah, misalnya, diciptakan bukan untuk mendorong manusia larut dalam amarah, melainkan sebagai katalis agar kesabaran muncul ke permukaan. Ketika seseorang gagal mengelola dua potensi ini dan membiarkan fujur mendominasi, maka lahirlah berbagai penyakit hati: riya, sombong, bohong, dendam, dan sejenisnya.

Kisah Nabi Ayyub AS menjadi teladan paling gamblang tentang bagaimana syifa dalam dimensinya yang tertinggi bekerja. Allah mengabadikan kisah ini dalam surat Al-Anbiya ayat 83 hingga 84 sebagai pelajaran bagi umat di masa mendatang. Ketika divonis menderita penyakit yang belum pernah dialami manusia sebelumnya dan tidak akan terulang sesudahnya, Nabi Ayyub tidak menyerah pada vonis manusia.

Beliau meninggalkan opini sekitar dan kembali sepenuhnya kepada Allah dengan permohonan yang sangat spesifik: memohon kesembuhan bukan semata untuk bebas dari rasa sakit, melainkan agar kembali mampu beribadah dengan sempurna. Poin inilah yang sering luput dari perhatian. Mengarahkan niat kesembuhan untuk tujuan ibadah ternyata menjadi kunci percepatan pengabulan doa. Allah pun langsung menyembuhkan, menyingkap seluruh rasa sakitnya, dan mengembalikan serta menggandakan segala yang pernah hilang darinya.

Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang secara khusus dikenal memiliki fungsi syifa, surat Al-Fatihah menempati kedudukan istimewa. Para ulama menyebutnya syifa’us sudur — penyembuh hati dan jiwa. Sebuah riwayat menceritakan seorang sahabat Nabi yang berhasil menyembuhkan kepala suku Arab yang tersengat kalajengking hanya dengan membacakan Al-Fatihah satu kali, tanpa pengulangan. Ketika hal ini dilaporkan kepada Nabi SAW, beliau justru balik bertanya dari mana mereka tahu surat itu bisa menjadi penyembuh, seraya mengisyaratkan bahwa terdapat ilmu dan tata cara tersendiri dalam mengamalkannya.