PUNGGAWALIFE, KAJIAN SEHAT — Dalam khazanah ilmu Islam, istilah syifa kerap dimaknai sekadar sebagai “obat” atau “penawar.” Namun pemahaman yang lebih mendalam justru membuka cakrawala yang jauh lebih luas, mencakup dimensi fisik sekaligus spiritual manusia secara menyeluruh.

Allah SWT telah menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 82, bahwa di antara ayat-ayat Al-Qur’an terdapat sebagian yang berfungsi sebagai syifa sekaligus rahmat bagi orang-orang yang beriman. Penegasan ini bukan tanpa syarat. Kalimat lilmu’minin — bagi orang-orang yang benar-benar beriman tanpa keraguan — menjadi kunci utama agar Al-Qur’an benar-benar bekerja sebagai penyembuh. Sebagaimana ditegaskan pula dalam surat Al-Baqarah ayat 2, seluruh kandungan Al-Qur’an akan menjadi petunjuk hanya bagi mereka yang bertakwa dan tidak menaruh sedikit pun keraguan di dalam hatinya.

Untuk memahami konsep syifa secara komprehensif, perlu dibedakan terlebih dahulu dua kategori penyakit yang dikenal dalam bahasa Al-Qur’an maupun standar bahasa Arab. Pertama adalah daa’ yang merujuk pada penyakit-penyakit fisik seperti sakit perut atau sakit kepala, dengan obatnya yang disebut dawaa. Dari sini lahir keyakinan yang didasarkan pada sabda Nabi SAW bahwa setiap penyakit fisik pasti memiliki obatnya.

Namun terdapat kategori kedua yang jauh lebih kompleks. Yakni kondisi di mana penyakit fisik telah melampaui batas kemampuan pengobatan medis konvensional, atau penyakit yang sejatinya bersumber dari aspek non-fisik seperti sakit hati, iri, dengki, dan dendam. Penyakit jenis ini dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah maradh. Allah SWT sendiri menggunakan kata ini ketika menggambarkan kondisi hati orang-orang munafik, sebagaimana tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 10. Tidak ada poli khusus di rumah sakit mana pun yang sanggup menangani penyakit berjenis ini, karena ia bersarang bukan pada organ fisik, melainkan pada sumber kehidupan yang lebih dalam.